Featured

_mg_0547-2

Bermula dari serangan k-pop disegala lini kehidupan, korea selatan akirnya menjadi destinasi yang paling banyak dikunjungi orang Indonesia. Dua tahun lalu karena harus menghadiri seminar akhirnya berkesempatan ke Wonju. Karena perginya memang bukan buat liburan tapi b e l a j a r, jadinya porsi jalan-jalan dimepetkan dengan jam belajar yang bikin sakau setengah mati, kaki sudah gatal sementara pembicara masih nyaman dengan paparan dan argumentasinya. Sementara Wonju, lumayan jauh daru pusat kota Seoul. Jadinya mimpi-mimpi tentang destinasi paling kece di Seoul buyar bersamaan dengan seminar yang tak kunjung usai. Wonju memang menawarkan view cantik khas pegunungan, katanya memang Wonju mah ramainya saat winter sementara kami datang saat summer. Setelah terkurung 3 hari penuh di hotel akhirnya bisa berkeliling Seoul

Tapi tidak semudah itu kabur dari rombongan, dan bagai domba-domba yang diarak beramai-ramai, kami hanya mengikuti guide kemanapun mereka membawa kami. Jangan pernah mencoba travel guide kalau kamu tidak satu selera dengan orang lain. Akhirnya kadang minat saya motret tertimbun oleh permintaan ibu-ibu berbelanja apalagi di duty free 😱😨😭😭😭😭😂😂😂😂😂

Yang pada akirnya Namsan Tower cuma kebagian porsi kecil dalam trip kali ini.

“30 menit ya balik ke bus” teriak si Guide…sialnya mendaki dari area parkiran sampai ke depan Namsan Tower saja butuh waktu 10-15 menit laaaah sementara saya berencana naik ke puncak tower yang di sambut dengan sahutan dari Oppa Oppa guide yang lancar berbahasa Indoensia dengan kalimat yang bikin putus asa, “kalau naik ke atas itu antrinya lama, bisa 1-2jam, kita tidak punya waktu” rasanya ingin menabok dia dengan tripod.

Dan Namsan Tower yang berdiri tepat di hadapan saya jadi kelihatan menggemaskan. Di lokasi ini berbagai jenis manusia ada, dari yang suka berselfie ria, atau sekedar menikmati dinginnya gunung Namsan. Sebenanrnya menara ini merupakan pemancar radio. Nah ada banyak tempat di kawasan ini yang bisa dikunjungi mulai dari Hanbook Culture, OLED Tunnel,  3D Screen, Hello Kitty Island  dan yang paling khas padlock Love Tree.

Berhubung waktunya singkat, saya hanya bisa mengambil gambar Namsan Tower dari halaman depan dan view kota Seoul di malam hari.

_mg_0555-2

Paling penasaran tentu saja gembok cinta ini. Dari mana asal muasal sampai semua pasangan malah memasang gembok di sini? Belum lagi cerita-cerita yang melatarbelakangi kenapa harus gembok dengan bentuk aneka macam? Kenapa bukan pita kek, selendang kek atau kaos kaki sekalian.

Jangan khawatir, buat kamu yang tidak membawa gembok dan bahkan tidak punya pasangan tapi ingin ikutan memasang gembok walaupun jomblo menahun, tidak usah khawatir tidak ada kok yang protes kalau kamu yang jomblo mau juga pasang gembok karena beberapa pengunjung pun tidak selamanya menuliskan nama mereka dan pasangan, ada juga kok yang menuliskan harapan-harapannya. So jomblo jangan berkecil hati.

Entah dari mana awal mulanya. Ritual gembok cinta ini berawal dari sepasang kekasih yang sebenarnya juga cuma mereplikasi kebiasaan orang-orang di menara Tokyo. Yang katanya, jika sepasang kekasih memasang gembok bertuliskan nama mereka berdua kemudian membuang kuncinya, maka hubungan mereka akan langgeng selamanya.

Lalu bagaimana jikalau hubungan itu kandas ditengah jalan? Susah dong harus cari kuncinya di semak-semak? Bagaimana kalau ternyata pasangannya berpindah hati dan menggembok hatinya dengan yang lain? Mau poligami?

But somehow love is stupid dan kita akan melakukan hal bodoh karena katanya sedang jatuh cinta tanpa sadar cinta itu hanya reaksi kimia. Permainan testosteron atau oegesteron yang selanjutnya mempengaruhi dopamin, adrenalin dan serotonin yang bikin wajah sumringah sepanjang hari. Dan ditahap tahap paling parah mungkin bisa jadi tubuh melepaskan oksitosin dan vasopressin. Namun pastinya otak sudah kacau dengan produksi zat-zat kimia ini.

Kamu percaya cinta abadi hanya karena sudah memasang gembok di Namsan Tower?

Love is stupid dan kitapun mencintai bahkan selalu merindukan kebodohan-kebodohan itu

Makanya tidak mengherankan bahkan gembokpun bisa menjadi simbol dari keterikatan sepasang manusia. Berbagai macam benda bisa jadi representasi dari janji-janji suci itu, bahkan bukan hanya di Namsan Tower namun juga diberbagai tempat di dunia, dengan legenda-legenda nya masing masingdari Cina, Hungaria, Paris, Jerman  bahkan di Indonesiapun ada. So dak perlulah jauh-jauh kalau cuma mau pasang gembok, mungkin pagar rumah kita jauh lebih membutuhkan.

Bukan hanya Namsan Tower kok yang ada di Seoul, ada banyak tempat wisata yang bisa kamu kunjungi. Dari pengalaman jalan-jalan sambil seminar, nih sedikit saran biar liburan kamu menyenangkan tidak seperti liburan setengah hati saya dua tahun lalu

  1. Pastikan tujuan kamu, jangan mendua. Jalan-jalan atau kerja?
  2. Patikan kamu pergi dengan orang-orang dengan visi dan misi yang sama
  3. Kalau harus pergi dengan sahabat kamu yang memang visi dan misinya beda, bicarakan sejak awal pembagian target destinasi kalian, apalagi kalau pergi dengan pasangan. Jangan sampai putus hubungan setelah liburan berakhir. Susah loh dapat kunci gembok yang sudah dilempar jauh-jauh ke dalam jurang ^_^
  4. Jangan menggunakan travel guide kalau kamu ingin menjelajah dengan bebas dan ingin berinteraksi dengan masyarakat, mereka terlalu banyak aturan :p
  5. Jangan terlalu banyak membawa barang-barang yang tidak penting namun adakalanya skala prioritas kita beda, barang yang tidak penting buat saya ternyata penting buat kamu
  6. Pastikan dana kamu cukup selama menjelajah, dak mau kan ya jadi pengemis di negeri orang
  7. Biasakan memperhatikan orang lokal, bagaimana mereka di tempat umum misalnya. Public space ya pastinya milik banyak orang, liat budaya dankebiasaan negara tempat kita berkunjung jangan sampai meninggalkan sisa makananmu di meja makan, karena di Korea self service berarti setelah makan kamupun harus membersihkan meja dan membawa sendiri piring dan semua alat makan kamu ke tempat yang seharusnya
  8. Nikmati momenmu, jangan berfokus untuk mengambil foto cantik tapi kamu lupa menimkati perjalananmu. Bagian itu yang saya sesalkan selama berkunjung ke Namsan Tower. Ternyata banyak tempat cantik yang sebenarnya dapat membantu membangun cerita bukan hanya sekedar foto ala slowspeed dan awan tarik-tariknya.
  9. Catat hal-hal penting di handphone atau di bukumu, apalagi yang memang ingin menceritakan kembali dan berbagi pengalamanmu.city-of-soul

Happy Traveling :0

Advertisements

Stagnan

Awal tahun saya berjanji untuk menulis setiap minggunya, akhirnya janji itu saya ingkari sejak minggu lalu

Ternyata menulis butuh mood boaster lebih besar daripada yang saya bayangkan. Situasi sekarang seperti tidak memungkinkan melanjutkan project

Mungkin saya memang butuh jeda (lagi dan lagi)

Dan konsistensi itu tidak pernah mudah

Menyerah? Saya belum sepenuhnya menyerah dengan project yang saya buat sendiri. Sekarang hanya butuh waktu jeda

Sebentar

Semoga tidak harus lama

Poso : yang kamu dengar vs yang saya lihat

Pernah mendengar nama kota Poso? Kalau kamu menonton berita, pastinya tahu tentang Poso. Satu kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah yang selalu masuk dalam berita dengan isu-isu terorisme. Dari awal saya pindah ke Palu, orang tua saya sudah mulai khawatir tentang terorisme yang katanya bersarang di Poso. Padahal jarak antara Palu dan Poso lumayan jauh kurang lebih 200 km dengan waktu tempuh 6-8 jam.

Poso, kota yang selalu digambarkan gelap dan suram. Dilumuri isu SARA, diceritakan dengan kisah-kisah menyeramkan. Namun setelah saya melihat sendiri apa yang selama ini saya dengar, ternyata Poso bukanlah seperti cerita-cerita yang selama ini saya dengar. Masyarakat hidup damai berdampingan. Mungkin sesekali ada gesekan-gesekan kecil seperti Bom bunuh diri beberapa waktu lalu, namun itu bukanlah wajah Poso yang sebenarnya.

_MG_0508

Berulang kali ke poso baik itu urusan pekerjaan atau sekedar berjalan-jalan, tidak pernah satu kalipun poso mengecewakan saya. Poso punya semua yang saya cari. Landscape cantik dimulai dari pantai-pantai pasir putihnya, air terjun yang menawan bahkan danau poso yang rupawan. Bahkan budayanya, Poso punya budaya yang mengakar. Poso punya setumpuk keindahan yang butuh di ekspos hingga orang-orang melupakan mimpi buruk yang mereka dengar.

Begitu melewati perbatasan dengan Kabupaten tetangganya Parigi, kita akan menikmati Poso pesisir, menyusuri garis pantai hingga sampai ke Kota Poso. Di kota itu, kita bisa menikmati matahari atau semburat matahari tepatnya sambil menenguk secangkir kopi hangat. Untuk menikmati suasana pantai, kita bisa berkunjung ke Pantai Imbo, Pantai Madale atau Pantai Penghibur.

Pernah mencoba menyusuri Sungai Poso? Saya pernah mencobanya sekali. Dengan berbekal kapal motor pengangkut obat, saya menyusuri sungai poso hingga ke hulu. Melihat aktivitas masyarakat poso di bantaran sungai, melanjutkan petuangannya di teluk tomini. Pengalaman yang susah terulang. Saya mengamati pantai-pantai cantik kota Poso dari teluk tomini.

Bosan dengan Pantai? Lanjutkan perjalananmu ke Tentena. Dari tentena, kita bisa melihat langsung Danau Poso, danau ketiga terbesar di Indonesia. Danau Poso membentang seluas mata memandang. Setiap tahunnya di tepi danau ini digelar festival Danau Poso, festival yang memperkenalkan budaya dan keberagaman masyarakat Poso.

 

Kita bisa menikmati indahnya Danau Poso di Kawasan Festival Danau Poso, atau di pantai siuri atau bahkan sampai ke wilayah Pendolo. Saking luasnya, danau ini bisa dinikmati dari berbagai tempat.

_MG_7062_MG_7059_MG_7046

Selain danau, air terjun saluopa kini menjadi destinasi yang tidak akan pernah terlewatkan. Jalan ke air terjun Saluopa kini sudah mulus tidak lagi seperti pertama kali saya berkunjung ke sana. Saat ini Saluopa ramai bahkan dihari biasa, tidak lagi bisa saya privatisasi untuk sepuasnya mandi dibawah guyuran air pegunungan nan sejuk. Jalan menuju air terjun ditumbuhi pohon-pohon rindang yang memayungi kita dari teriknya matahari.

Tentena juga punya hutan pinus rindang, sempatkan berjalan diantara susunan pinus ini. Aroma pinus menyeruak memasuki indera penciuman. Berjalan didalam hutan bagai seorang anak kecil yang mencoba mencari jalan pulang. Tersesat, tapi kita sekaligus menemukan makna mencari.

Kembali ke Kota Poso dengan perasaan bahagia, menikmati malam merekam jejak-jejak cahaya. Poso tidak seseram yang kamu dengarkan, tidak sehitam kayu eboni  yang selalu jadi oleh-oleh tiap saya pulang dari Poso. Kayu eboni atau dikenal juga dengan kayu hitam telah lama menjadi oleh-oleh dari Kota Poso yang telah dibentuk dengan cekatan oleh para pengrajin kayu eboni.

_MG_0966

Poso yang saya liat, tidaklah sama seperti Poso yang kamu dengar di berita. Poso memiliki pesona yang sayang jika dilewatkan hanya karena kita sering mendengar berita kelamnya. Bahkan dari cerita-cerita itulah, banyak bermunculan tokoh-tokoh perdamaian di Poso. Mereka yang mencoba mengajarkann arti damai bagi generasi selanjutnya. agar tragedi kelam itu tidak terulang dan kita bisa melihat Poso dengan wajah sebenarnya, Poso yang menawan bukan Poso yang orang-orang itu tanamkan dipikiran kita melalui terornya.

Teluk Tomini: Keindahan Tanpa Batas

Setelah 3 minggu membahas pulau-pulau tujuan utama di Taman Nasional Togean, part terakhir ini akan berisi rangkuman beberapa tempat lain yang bisa kamu kunjungi di Taman Nasional Kepulauan Togean. Selain pastinya keindahan bawah lautnya yang ssulit saya ceritakan karena tidak pernah masuk hingga ke dasar laut. Setelah ke Pulau Papan, Pulau Kabalutan atau di Pulau Kadidiri, kemana lagi tujuan wisata di Togean?

Dimulai dengan Danau Ubur-Ubur, danau? Di tengah laut? Yap, Togean punya danau unik ini. Uniknya lagi danau ini banyak Ubur-uburnya. Eh bukannya ubur-ubur hidup di laut? Tapi ini ubur-ubur di danau? Danau, pastinya air tawar dong. Nah di danau ini hiduplah ubur-ubur yang sudah beradaptasi dengan air tawar, katanya tidak lagi menyengat seperti saudara serumpunnya di lautan sana. Awalnya, ubur-ubur ini pastinya dari laut, kemudian terjebak di dalam danau yang terbentuk akibat letusan gunung. Pada akhirnya sang ubur-ubur belajar memahami lingkungannya, beradaptasi menjadi ubur-ubur tak bersengat yang terkurung di danau air tawar.

Setelah puas dengan Danau Ubur-Ubur, destinasi yang sedang dikembangkan oleh Dinas Pariwisata saat ini adalah Gua Kelelawar. Gua ini terletak cukup tinggi di atas puncak bukit, sehingga untuk memudahkan akses wisatawan, pemerintah daerah menyiapkan seribu anak tangga untuk membantu mereka berkunjung ke Gua ini. Gelap pastinya dan aroma tidak nyaman dari kotoran makhluk nokturnal ini sebenarnya tidak menarik buat saya, untuk apa melihat kelelawar? Membayangkannya saja bikin ngeri. Tapi bagi beberapa orang kehidupan makhluk malam ini pantas untuk dijadikan objek.

Melanjutkan perjalanan, selain mengunjungi makhluk-makhluk imut itu, beberapa resort di sepanjang jalur menuju Pulau Papan bisa jadi pilihan untuk bersantai atau sekedar singgah menikmati jernihnya air di pantai-pantai private mereka. Ada Fadhilah resort yang menawan, dengan pasir putih dan bungalow yang cantik. Di resort ini kita bisa bersantai sepuasnya, sama seperti resort di sepanjang teluk tomini, resort ini menyediakan apapun yang kita mau, dari diving, snorkling hingga makan 3 kali sehari.

Selain Fadhilah Resort, kita juga bisa singgah, atau  tinggal atau menetap di Bolilanga Island Resort. Di resort ini juga cantiknya terlalu, laut yang jernih, bungalow yang nyaman, semua yang hal yang kamu butuhkan untuk keluar sejenak dari rutinitas. Atau Lestari Resort yang terletak tepat di depan Pulau Papan.

Kalau soal resort sudah pasti indah, tapi jangan lupa bahkan pulau-pulau berpenduduk pun masih memiliki keindahannya sendiri.

MUT08280

Pulau Batudaka, Pulau terbesar di Kepulauan Togean. Penduduknya umumnya berasal dari Gorontalo ataupun Ampana. Wakai, begitu mereka menyebut ibu kota kecamatan yang berada di Pulau terbesar ini. Wakai merupakan pintu gerbang bagi para wisatawan untuk melanjutkan petualangannya di Kepulauan ini. Mayoritas mata pencarian masyarakat di Pulau ini adalah nelayan dan petani. Pulau besar ini pun merupakan urat nadi perekonomian masyarakat di kepulauan Togean. Kini akses menuju Wakai tidak lagi sulit, setiap harinya tersedia kapal cepat dari dan ke Ampana.

Ai terjun tanimpo juga terdapat di Wakai, kalau bosan dengan laut, objek wisata ini bisa jadi pilihan. Air nya yang segar mengalir dari atas puncak bukit, diantara rindangnya pepohonan. Sayangnya akses ke air terjun ini tidak memadai, butuh bantuan penduduk lokal untuk menunjukkan lokasinya, selain itu jangan datang saat musim kemarau dijamin air terjun yang kamu cari hanya terlihat seperti kubangan.

MUT05873

Satu lagi pulau yang sempat saya kunjungi yaitu Pulau Salaka. Letaknya yang berseberangan dengan Wakai memudahkan saya untuk sekedar singgah. Di Pulau ini, suku Bajo juga bermukim. Tidak sebesar komunitas suku Bajo di Pulau Kabalutan, di Pulau Salaka, jumlah mereka terhitung sedikit.

MUT09391

Di Pulau ini mayoritas masyarakatnya nelayan. Hingga tak heran jika ingin mencari hasil laut, Pulau ini bisa jadi destinasi. Umumnya mereka menjual hasil laut pada tengkulak, yang mengumpulkan hasil nelayan untuk di jual ke Ampana atau bahkan dijadikan komoditi ekspor. Sayangnya di Pulau ini fasilitas pendidikan belum ada sehingga anak-anak seperti Norma harus menggunakan kapal jemputan setiap paginya demi dapat bersekolah. Dari norma saya tahu bahwa mereka, anak-anak di kepulauan Togean harus berusaha dua kali lebih keras hanya untuk sekedar mendapatkan pendidikan yang sama seperti teman sebaya mereka di kota. Guru-guru yang silih berganti dan bahkan buku pelajaran yang telah usanglah yang membantu mereka meraih cita-cita.

Togean mungkin pulau yang indah bagi mereka yang hanya singgah sesekali, menikmati apa yang mereka sebut sepotong surga di teluk Tomini namun bagi mereka yang tinggal dan menetap, Togean merupakan kampung halaman, rumah, hati, jiwa yang akan menyatu utuh sebanyak apapun kurangnya, sejauh apapun mereka melangkah pergi

MUT08195

 

Togean, the place where their heart belongs

Anak-Anak Pulau Kabalutan

Pernah mendengar tentang suku Bajo? Suku ini terkenal sebagai manusia laut. Mereka bisa menahan nafas selama 13 menit dan menyelam sedalam 70 meter tanpa bantuan alat modern.  Beberapa peneli bahkan tertarik memecahkan misteri kemampuan suku Bajo menyelam ini, ada yang menemukan bahwa memang mereka mengalami mutasi hingga ukuran limpanya lebih besar 50 % dibandingkan manusia normal lainnya, dengan ukuran limpa yang besar itulah produksi oksigen dalam darah lebih banyak. Adanya penemuan ini mungkin membenarkan teori evolusi dan adaptasi. Manusia mempunyai kemampuan beradaptasi yang fantastis yang diikuti dengan mutasi dan evolusi organ-organ tubuh kita.

 

Suku Bajo penguasa lautan, sejak kanak-kanak pun mereka telah bermain dilautan. Laut bukan sekedar rumah tapi juga bagian dari diri mereka. Dari lautlah mereka hidup dan semoga saling bersimbiosis mutualisme.

Kabalutan, merupakan salah satu perkampungan suku Bajo terbesar di Sulawesi. Desa ini seolah mengapung diatas lautan. Sayangnya, sama seperti perjalanan yang selama in saya lakoni, tidak ada cerita khusus selama saya berkunjung dua kali ke Pulau ini. Selain karena lagi-lagi saya hanya mengejar landscape bukan cerita akhirnya saya melewatkan banyak hal. Saya menyadari banyak cerita di Kabalutan begitu melihat foto-foto kawan saya yang kebetulan juga berkunjung ke Kabalutan saat itu.

Apa yang bisa saya ceritakan selain laut, senja, matahari terbit?

Mungkin tentang keceriaan anak anak yang sempat saya abadikan di kamera.

Saya suka melihat tawa mereka, tawa lepas tanpa beban. Anak-anak pulau yang belum terkontaminasi gawai. Anak-anak yang masih bisa bermain dan berkumpul dengan sebaya mereka. Berinteraksi satu sama lain, berenang bersama, bermain sepak bola bersama bahkan mengejar layangan diantara lorong-lorong rumah mereka.

Pertama kali kapal kami menyentuh dermaga di Pulau Kabalutan, wajah yang saya temui adalah wajah anak-anak. Wajah-wajah penasaran menanti kami turun satu persatu dari kapal. Mereka melempar senyum malu-malu, begitu kaki saya menginjak papan dermaga, mereka menjauh, bagi mereka kami alien. Satu persatu barang kami turun, mereka masih tetap didermaga. Menatap satu persatu barang bawaan kami. Rencananya kami akan survei lokasi untuk pemberdayaan masyarakat terkait hasil laut yang bisa diolah menjadi makanan.

Kami mencari rumah kepala desa, diiringi anak-anak yang masih mengikuti kami hingga sampai di rumah kepala desa. Ada rasa penasaran pastinya tentang siapa kami, mau apa kami di desa mereka. Wajah anak-anak itulah yang tidak bisa saya lupakan, hingga pada kunjungan kedua saya sudah siap dengan sekotak beng-beng yang saya bagikan begitu tiba di dermaga.

Esoknya saya mengambil gambar di atas bukit, anak-anak sekolah dasar yang memang sekolahnya dekat dengan bukit malah ikut-ikutan memanjat bukit, lagi, wajah penasaran dengan barang-barang yang saya bawa. Sewaktu menawari mereka untuk di potret, mereka malah tertawa saling mengejek. Tidak ada yang mau dipotret sendirian, saya mengambil gambar mereka seadanya. Dengan malu-malu mereka meminta untuk melihat hasil jepretan saya. Tawa lagi, tawa anak-anak yang riang tanpa beban.

Sorenya anak-anak ini punya banyak aktivitas, sekelompok anak bermain bola di lapangan depan surau ada juga yang berenang riang di belakang rumah ada pula yang bermain layangan. Pemandangan yang tidak lagi saya dapatkan di kota besar. Mereka lah manusia. Mereka yang tidak tersentuh oleh teknologi, kadang lebih manusiawi. Mereka akan punya cerita jika suatu hari nanti meninggalkan Pulau Kabalutan. Mereka akan mengenang desa mereka, kampung halaman mereka sebagai tempat bermain paling luas, bukan hanya berukuran lima inci

Pulau Papan, di antara eksotisme dan eksistensi

Melanjutkan petualangan di teluk tomini, kali ini saya ingin bercerita tentang Pulau Papan. Pulau papan merupakan salah satu destinasi wajib jika kamu berkunjung ke Teluk Tomini. Mengapa disebut Pulau Papan? Karena di Pulau ini terdapat jembatan papan yang melintang di atas laut yang menghubungkan Pulau Papan dan Pulau Kadoda. Dahulu katanya jembatan ini dibangun untuk mengakomodasi anak-anak yang bersekolah di Pulau Kadoda yang harus berenang dari rumah mereka diseberang sampai ke pulau Kadoda.

MUT05319

Jembatan kayu yang membelah lautan itu panjangnya kira-kira 900 meter. Di tepian jembatanlah, masyarakat membangun rumah-rumah kayu bertumpu pada bebatuan karang atau berdiri tegak di tepi lautan. Rumah khas suku Bajo.

Untuk mencapai Pulau Papan sekarang cukup mudah. Dari Ampana cukup dengan menumpang kapal menuju Pulau Malenge, ada juga yang langsung ke Pulau Papan. Bisa juga mencarter perahu nelayan, sekalian mengitari pulau-pulau cantik di Teluk Tomini. Kini sudah banyak pilihan.

Selain pesona jembatannya yang melintang, bukit-bukit karang juga menjadi pesona yang tidak terelakkan. Dari atas bukit karang, kita bisa menyaksikan deretan rumah-rumah suku Bajo yang seolah mengapung di atas air. Sejak menjadi destinasi wisata, Pulau Papan mulai berbenah. Kini sudah tersedia penginapan untuk wisatawan yang ingin menghabiskan malamnya di sana. Tepat di depan Pulau Papan juga terdapat Resort Lestari yang menawarkan penginapan dengan konsep alam. Tepat di belakang resort, terdapat laguna, sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik.

Menggambarkan pulau papan rasanya sudah cukup, dari foto-foto yang beredar pastilah mengundang decak kagum orang-orang diluar sana untuk mampir dan berkunjung. Pulau ini punya keistimewaan, punya karakteristik. Sayangnya eksotisme itu digilas kebutuhan manusia akan eksistensi.

Saya berkunjung terakhir kali ke Pulau Papan november 2018, tahun lalu. Untuk kedua kalinya saya ke Pulau Papan. Keduanya pastilah untuk bekerja dan bersenang-senang. Tapi kunjungan saya yang kedua dihantam kenyataan yang tidak menyenangkan. Plang nama besar-besar bertuliskan “Welcome to Papan Island” benar-benar mengganggu pemandangan yang sudah terekam di kepala saya tentang Pulau Papan.

MUT00879

Saat itu, Pulau Papan lagi kebagian proyek pembangunan desa wisata. Di tepi jembatan panjang itu terpajang master plan perencanaan wajah pulau papan yang bersolek. Intinya akan sama dengan Maldives. Sedih atau bahagia? Akhirnya Pulau Papan dilirik pemerintah? Apa ini bentuk perhatian? Mungkin di kepala mereka dengan adanya kemudahan akses ke Pulau Papan akan semakin meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Pulau Papan. Tapi apakah semua mencari eksistensi? Jika dulu orang-orang ingin berkunjung ke Pulau Papan untuk menyaksikan kehidupan alami suku bajo kini sepertinya harus urung niat. Pulau Papan sudah modern

Sebentar lagi kamu bisa siaran live di Pulau Papan di depan plang nama besar-besar itu. Sampaikan pada semua orang di dunia maya kamu, jikalau kamu sedang berada di sebuah pulau eksotis di tengah teluk tomini yang kesananya saja butuh uang yang lumayan. Tapi apa yang kamu dapatkan? Spot yang instagramable? Yang memberikan ruang untuk ego eksistensi. Bagi saya, dengan semua kemudahannya, Pulau Papan kehilangan jiwa.

Dulunya, untuk berkunjung ke Pulau Papan saya harus rela mengarungi lautan bebas dengan kapal nelayan. Panas menyengat yang membuat kulit hitam legam dan butuh nyali besar bagi saya yang tidak bisa berenang untuk terombang-ambing di lautan. Saya menikmati perjalanan itu, perjalanan dengan adrenalin yang berdesir memenuhi nadi. Mendaki bukit kecil di belakang rumah suku Bajo hanya untuk sekedar memotret senja di atas lautan. Mengejar senja yang membuat nafas saya tersengal dan kadang kaki terpeleset.

Belum lagi tidak ada signal yang membuat saya betul-betul terlepas dari dunia maya, di dunia tanpa handphone itulah saya merasakan eksistensi saya sebagai manusia. Yang pada akhirnya harus memulai percakapan nyata dengan orang-orang yang saya temui di lautan.

MUT04849

saya suka Pulau Papan karena saya bisa mengasingkan diri tapi tidak menjadi orang asing

Berhenti dari bermain gadget dan menjadi manusia yang sebenarnya, makhluk sosial yang saling menyapa, membaca raut wajah, mengenali mimik dan menatap mata lawan bicara.

Di Pulau tanpa signal itu saya menjadi manusia

Sekarang rasa itu sudah menghilang, berganti tangga beton yang semakin memudahkan kita mencapai puncak bukit. Semakin gampang untuk berselfie ria dengan latar belakang plang besar Papan Island.

MUT00702

Sampai sekarang yang masih jadi pertanyaan mengapa di setiap destinasi butuh mengukuhkan nama tempat? Apa karena semua tempat kini kehilangan jati dirinya setelah bersolek dengan gincu yang sama? Akhirnya hanya papan namanya itulah yang menegaskan eksistensi suatu tempat sekaligus memberi penanda bagi mereka yang telah berkunjung ke tempat itu. Karena katanya tanpa gambar artinya hoax bukan? Jadi jika nama tempat tidak jelas bisa jadi keberadaannya di Pulau Papan tidak sah.

Butuhkan nametag untuk dikenal? Bukankah lebih menyenangkan jika kita bisa menebak lokasi tanpa harus memakai label? Apakah sekarang destinasi wisata serupa produk? Butuh label, butuh merek agar punya nilai jual? Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya.

Pulau papan yang eksotis kini ramah pada mereka yang mengejar eksistensi.

Semoga memang bisa meningkatkan kunjungan wisata serta meningkatkan kesejahteraan penduduk di Pulau Papan

Tapi bagi saya, Pulau Papan sudah kehilangan jiwa…kehilangan rasa.

 

 

Perempuan-Perempuan Lajang

Sepertinya perempuan lajang di atas 30 tahun itu selalu jadi misteri. Kadang ada yang merendahkan menganggapnya tidak laku atau bahkan ada pula yang mencapnya terlalu pemilih.

Diatas 30 tahun, perempuan bagai kehilangan charm nya. Disingkirkan generasi-generasi baru yang jauh lebih cantik, mulus dan seksi. Bagai bunga, maka usia 30 itu tahap bunga akan layu dan kumbang makin malas untuk melirik.

Akhirnya, tinggallah mereka melajang hingga akhir hayat.

Mengenaskan? Yap terlihat dan terdengar mengenaskan bagi sebagain besar masyarakat Indonesia. Mereka terlihat menjadi satu komunitas yang menjadi burden, beban. Terlihat kesepian. Tidak bahagia

Tapi kamu yakin dengan pandanganmu itu?

Yakin mereka kesepian?

Yakin mereka tidak bahagia?

Mengenaskannya justru kadang yang menjudge adalah perempuan-perempuan juga yang (merasa) beruntung mendapatkan laki-laki. Maka mereka merasa menang jika telah menikah dan pada akhirnya mengeluarkan statemen-statemen super power yang tanpa sadar berisi nada-nada kesombongan. Seolah prestasi dan capaian terbesar adalah menggiring laki-laki untuk menikahi mereka. Yang pada akhirnya membuat standart bahagia versi mereka adalah menikah, sehingga yang belum menikah sudah pasti tidak bahagia.

Sungguh analogi yang aneh

Tanpa sadar, perempuan-perempuan itu malah melukai kawan kawan lajangnya padahal pertanyaan kapan menikah bagi orang yang belum menikah sama pedasnya dengan pertanyaan kapan punya anak bagi mereka yang sudah menikah lama. Lagi-lagi jodoh dan rezeki anak itu bukan bahan untuk dijadikan parameter kebahagiaan apalagi di sombongkan.

Menghadapi pertanyaan kapan menikah inilah yang jadi pokok bahasan, bagaimana reaksi para lajang di kantor saat ditanya “kapan kawin?”

Jangan menghadapi pertanyaan ini dengan emosi, apalagi marah. Karena kelajanganmu akan jadi bahan ejekan paling top, selain lajang kamu pun digelari perawan tua yang pemarah. Saya menyebutnya sindrom perawan tua. Sikap pemarah para lajang sering disinkronkan dengan tidak menikahnya mereka. Saya belum menemukan jurnal ilmiah yang membahas hubungan antara tidak menikah dengan anger management. Bukan berarti belum menikah (agak mengenaskan menuliskan tidak menikah) selalu dianggap tidak bisa mengendalikan amarah.

Semua tergantung individu dan dilingkungan mana mereka bergaul. Namun kadang cara-cara manusia mengeneralisasikan sesuatu sebenarnya malah tidak manusiawi. Semua di pukul rata.

Orang yang ada diluar sana tidak pernah benar-benar tahu mengapa sampai di umur 30 tahun seorang perempuan belum menikah. Jawaban paling dasar, memang belum ada jodohnya. Jodoh itu tepat waktu, tidak lambat dan tidak cepat. Dan jodoh bukan pula balapan, siapa cepat, siapa terberkati. Setiap kita punya garis kehidupan masing-masing. timeline masing-masing. Selalu ada alasan disetiap kejadian, selalu ada hikmah disetiap ketetapan.

Daripada membandingkan diri dengan yang telah menikah dan lajangers terpuruk tidak bahagia, lebih baik meningkatkan value diri entah lewat pendidikan atau prestasi. Tapi sayangnya sama seperti yang berlaku pada Mbak Ira Koesno yang cantik pintar dan tajir seketika the best of her itu dihapus dengan satu kalimat pamungkas “sayangnya dia belum menikah”

Dan sekali lagi dunia memang kejam dengan wanita yang belum menikah.

Lalu apa itu jadi penghalang perempuan lajang meningkatkan value diri? Jangan sampai lah, jangan merendahkan dirimu hanya demi menggaet laki-laki. Sama seperti kata Koh Amrazing, “kalau kamu sudah memoles dirimu seperti diamond, ngapain kamu menunggu batu kali”

Tingkatkan saja value dirimu, maka yang pantaspun pastinya lelaki dengan nilai value yang sama, bukan lelaki minder yang langsung surut ketika melihat kamu punya gelar bejibun, tidak mesti harus sederajat di pendidikan tapi dia punya kelebihan lain, punya value lain yang setara dengan value mu yang meningkat karena pendidikan mu tinggi. Lah bukan kah jodoh itu saling melengkapi? Setara? Sejajar? Bukan atas bawah!

Jangan takut untuk menjadi the best of you karena Allah SWT menjanjikan wanita yang baik untuk lelaki yang baik pula

Berusahalah menjadi versi terbaik kamu hingga Allah mempertemukan mu dengan lelaki baik dalam versi terbaiknya

Ps. I need you know!

Poso to Sulewana, 13 februari 2019

Senja di Pulau Kadidiri

Kerja tidak selamanya mengerjai saya. Ternyata pekerjaan pulalah yang akhirnya membawa saya mengarungi teluk tomini. Walaupun memang seolah di setting, biar bisa berkunjung ke pulau pulau di teluk tomini tapi biarlah saya menikmati sekeping perjalanan yang dibiayai negara. Tugas untuk mengawasi hingga ke seluruh tempat di Indonesia nyatanya memang modal besar untuk bisa menjelajah sebagian Sulawesi bagian tengah.

Untungnya dengan beberapa koneksi, kami bisa memperoleh kapal kecil yang sudi menyeberangkan kami ke Wakai. Salah satu pulau berpenduduk di kepulaun Togean. Dengan membawa setumpuk bahan untuk bekerja, saya menenteng semua bersiap naik ke kapal.  saya berpikir kapal yang kami tumpangi adalah kapal besar serupa kapal kapal feri tapi ternyata kapal nelayan, kapal mereka menangkap ikan. Untungnya kapal ini dilengkapi dengan mesin turbo sehingga perjalanan kami relatif lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan kapal feri. Itu perjalanan kami di tahun 2013.

Saat ini sudah banyak kapal kapal yang melayani rute Ampana-Wakai bahkan ada beberapa kapal yang melayani rute pulau pulau disekitar Teluk Tomini. Ada Ampana-Malenge-Pulau Papan. Gencarnya promosi melalui media sosial turut membantu semakin baiknya transportasi ke pulau-pulau di Teluk Tomini.

Saya tidak bisa bercerita banyak tentang bawah laut Togean, karena jangankan menyelam, berenangpun saya tidak bisa. Jadinya saya hanya akan bercerita tentang cantiknya pulau pulau berpasir putih, indahnya matahari terbit dan terbenam, keramahan masyarakat suku bajo dan panasnya matahari.

Berawal dari kenekatan, di tahun 2013 saya dan sekelompok om-om sok tangguh menjelajah teluk tomini yang seharusnya sejak dulu kala menjadi bagian pengawasan kami. Tapi tidak pernah tersentuh.

Kami memutuskan ke Wakai, ibu Kota Kecamatan Una-Una yang terletak di Pulau Batudaka. Pulau terbesar dan berpenduduk terbanyak yang letaknya di tengah teluk Tomini. Menghabiskan waktu dua malam untuk sekedar memastikan jajanan anak-anak di wakai aman dan memastikan pasar tradisionalnya tidak menjual pangan yang mengandung bahan berbahaya. Simpel pekerjaannya? Mungkin terlihat sesimpel itu. Saya tidak akan melanjutkan cerita panjang tentang apa yang saya kerjakan disana. Satu saat akan ada part tersendiri tentang apa yang saya kerjakan selaian jalan-jalan dengan uang negara ini.

Setelah menyelesaikan kewajiban, waktunya l i b u r a n

Saya dan tim memutuskan mengunjungi Pulau Kadidiri yang terkenal dengan dua resort utamanya yang katanya cuma orang bule yang bisa masuk. Ada tiga resort black marlin, kadidiri paradise dan lestari. Saya menghabiskan semalaman di Kadidiri Paradise walaupun awalnya di sambut atau di sambit dengan kerutan si empunya resort karena kami asal saja masuk ke wilayah mereka.

Setelah beramah tamah, kami pun diizinkan menginap. Di resort ini, selain kami tak ada lagi wisatawan lokal. Ini sih sejarah 2013 yah, saat Kadidiri belum seterkenal sekarang. Saat itu, di resort ada beberapa kelompok tamu berdasarkan daerah asal mereka, saya hanya memindai mereka dari bahasa. Bahasa yang juga saya tidak mengerti asalnya. Dari nona cantik pemilik resort, dia bercerita kalau tamu-tamunya hari itu ada yang berasal dari Jepang, Swedia dan Prancis.

Saya iri melihat mereka yang jauh dari belahan bumi lainnya malah melintas ke Indonesia demi menikmati pulau-pulau berpasir putih dan siraman matahari yang selalu saya kutuk. Mungkin itu yang namanya negeri tetangga selalu lebih indah. Kita hanya bosan dengan kemonotonan. Ingin yang lain, ingin yang berbeda. Itulah sebabnya kita melangkah keluar dari rutinitas, zona nyaman dan kemudian mulai menjelajah.

Penjejalahan saya hari ini baru sebatas pulau kecil ditengah Teluk Tomini.

Matahari sebentar lagi terbenam, saya menyiapkan kamera seperti biasa dan membiarkan teman-teman saya (atau tepatnya om-om dan tante tante saya) itu bermain air sepuasnya. Sesekali saya mendengar celutukan dari om-om yang berpuas ria menikmati pasir putih, air laut dan bule-bule berbikini yang dengan riangnya bermain volley pantai. Pemandangan yang mungkin tidak mereka dapatkan di Indonesia atau bahkan di rumah mereka. Jadi biarlah mereka menikmati imajinasinya.

Disudut resort lainnya, sepasang kakek-nenek menikmati masa pensiun mereka dengan membaca buku menikmati senja tenggelam dengan bikini dan telanjang dada. Damn! i want that happy life. Berbaring di kursi malas, dengan buku kesayangan, menikmati senja yang di telan malam pelan-pelan dan dia disampingmu. Happy moment!

Sayangnya ditiap senja, saya tidak pernah menikmati senja yang seperti itu. Saya menikmati senja dengan panik, takut foto yang saya dapatkan tidak sesuai ekspektasi. Sibuk dengan urusan filter dan slowspeed. Takut nanti saya tidak punya waktu kembali ke tempat itu, takut saya tidak punya foto bagus di tempat itu.

dan sama seperti senja dimanapun yang pernah saya abadikan, maka senja di Kadidiri hanya sekedar senja yang bisa saya simpan di memori henpon, laptop dan hanya saya jadikan wallpaper. Bukan momen yang melekat di memori dan hati saya.

Perlahan matahari merayap masuk disela-sela pulau yang tepat berada di depan Kadidiri paradise. Meninggalkan guratan warna yang menghias langit sebelum malam. Indah, senyap. Semua seolah terdiam menikmati momen itu. Sesekali terdengar bunyi shutter. Yah anggaplah bunyi itu menambah syahdunya senja.

Apa yang bisa kamu lakukan jika malam menjemput di Kadidiri? Saya menghabiskan malam di dermaga. Memandang langit yang gelap sempurna tapi dengan gelapnya itu mampu menampilkan cahaya bintang dengan jelas. Disini bintang tidak punya saingan, walaupun Kadidiri paradise memiliki penerangan yang cukup tapi tidak lah menggangu benderang nya bintang malam itu.

Saya masih ingat bintang dan bulan malam itu.

karena nyatanya saya belum tahu bagaimana mengambil gambar bintang dan bulan dengan kamera dlsr. Memang ada untungnya saat saya belum terbiasa dengan efek-efek slowspeed. Baru sekedar mencoba-coba.

laut

ombak

terdengar jelas

dipandu bunyi-bunyian hewan malam

dan seketika kami dikejutkan munculnya ikan pari tepat di bawah dermaga

pertama kali melihat ikan pari dengan ekornya yang memanjang

setengah mati ingin memotret dengan henpon yang ala kadarnya. Tapi memang dia bukan untuk disimpan di memori henpon. sayapun kembali menikmati gemulainya, menyimpan gambaran malam itu hanya dalam otak.

setelah mata cukup mengantuk, kami masuk ke dalam kamar. Kamar di Kadidiri Paradise cukup unik, natural. Semua terbauat dari bahan alam. Walaupun bau pengap masih terasa tapi cukuplah membuat tidur nyenyak. Sesekali teman sekamarku nyeletuk “muth kalo ada ular ini, bagaimana?” yang hanya saya balas dengan tertawa dan melanjutkan tidur

Kamar di Kadidiri Paradise

Pagi. Matahari pagi

Sayangnya saya tidak tahu dimana tempat untuk memotret matahari terbit di kadidiri. Sebelum matahari terbit saya hanya duduk manis di pantai. Harusnya saya bisa mencari sendiri bukan? arah terbit bukankah arah berlawanan dari arah terbenam? tapi memang otak saya mengecil saat itu. Padahal cukup melintasi pepohonan rindang dibelakang kamar saya, ada tempat cantik dibelakang sana. Ternyata di situlah akses masuk ke Kadidiri, kan kami kemarinnya lewat dermaga yang seharusnya bukan tempat masuk, tapi tempat bersantai. Disana pula tempat bersandarnya kapal milik kadidiri yang belakangan saya tahu, bahwa kapal inilah yang menjemput tamu dari Wakai

Jadi jalur untuk ke Kadidiri Paradise, wisatawan memastikan diri dulu tiba di Wakai. Untuk menuju Wakai ada dua jalur yang bisa di tempuh. Jalur dari Ampana Via Palu atau Jalur dari Gorontalo. Umumnya wisatawan masuk ke Togean melalui Gorontalo itupun setelah mereka mengeskplore Manado yang terkenal dengan Bunakennya. Tapi saat ini kedua jalur memudahkan wisatawan. Dari Palu ke Ampana tersedia pesawat yang langsung mengantarkan wisatawan tanpa perlu lelah lelah menggunakan transportasi darat yang memakan waktu kurang lebih 10 jam.

2018, saya kembali ke Pulau Kadidiri tapi bukan lagi di Kadidiri Paradise. Saya penasaran dengan resort satunya lagi. Black Marlin.

Black Marlin Resort

Untuk saat ini, kedua resort ini punya kelebihan nya masing-masing. Bagi saya menikmati senja di Kadidiri bukan hanya tentang melihat matahari menghilang tapi juga tentang mimpi-mimpi yang tidak perlu tergesa-gesa untuk diwujudkan.

waktu

sama seperti senja

jika memang waktunya dia beranjak pergi, senja akan tetap di telan malam biar besok bisa terbit dengan cahaya baru atau harapan baru.

Boleh jadi mimpi itu redup sekarang, tapi sedang mempersiapkan diri untuk terbit besok.

 

Teluk tomini bagi saya banyak menyimpan cerita, ada banyak pulau yang bisa kita kunjungi.

pulau selanjutnya kemana?

Next week mungkin pulau papan, pulau kabalutan atau pulau salaka